Penduduk Miskin di Maluku Meningkat

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat jumlah penduduk miskin di Maluku pada September 2020 sebanyak 322,40 ribu jiwa (17,99 persen), dan jika dibandingkan Maret 2020 yang tercatat 318,18 ribu jiwa maka terjadi peningkatan sebanyak 4,2 ribu jiwa.

Persentase penduduk miskin di Maluku juga mengalami peningkatan sebesar 0,55 poin. “Peran komoditas makanan terhadap garis kemiskinan (GK) jauh lebih besar dibandingkan dengan komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan),” kata Kepala BPS Provinsi Maluku, Asep Riyadi di Ambon, Senin.

Menurut dia, indeks kedalaman kemiskinan (p1) maupun indeks keparahan kemiskinan (p2) mengalami peningkatan. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung menjauhi garis kemiskinan, dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin lebih besar.

“Secara umum persentase penduduk miskin pada periode Maret 2016 - September 2020 menunjukkan tren yang semakin menurun, kecuali pada September 2016 dan September 2020,” ujarnya.

Sementara pada periode Maret 2020 ke September 2020 terjadi peningkatan persentase penduduk miskin sebesar 0,55 persen poin. Dalam lima tahun terakhir persentase penduduk yang rata-rata pengeluaran per bulan di bawah garis kemiskinan atau yang disebut sebagai penduduk miskin berkurang sebesar 1,19 persen poin.

Asep menambahkan, apabila dibedah menurut daerah, jumlah penduduk miskin di perdesaan selama periode Maret 2016 sampai dengan September 2020 turun sebanyak 3,11 ribu jiwa. Sementara di daerah perkotaan pada periode yang sama mengalami penurunan sebanyak 2,21 ribu jiwa.

Jika dilihat dari sisi persentase, penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2020 sebesar 27,06 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan yang hanya sebesar 6,36 persen.

Selama periode Maret 2016 sampai dengan September 2020, persentase penduduk miskin di perdesaan meningkat sebesar 0,24 persen poin. Sementara untuk daerah perkotaan terjadi penurunan sebesar 1,3 persen poin. 

Selain itu,  BPS juga mencatat September 2020 tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Maluku yang diukur menggunakan Gini Ratio tercatat sebesar 0,326. Jika dibandingkan dengan bulan Maret 2020 yang tercatat sebesar 0,318, maka Gini Ratio Maluku September 2020 naik sebesar 0,008 poin.

“Gini Ratio September 2020 di daerah perkotaan mengalami penurunan sebesar 0,003 poin sedangkan perdesaan mengalami peningkatan sebesar 0,001 poin, bila dibandingkan dengan Maret 2020,” kataAsep.

Pada September 2020, distribusi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 20,63 persen. Artinya pengeluaran kelompok penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah.

Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 22,05 persen dan untuk daerah perdesaan angkanya tercatat sebesar 23,51 persen. Keduanya termasuk kategori tingkat ketimpangan rendah.

Menurut Asep, salah satu ukuran ketimpangan 6yang sering digunakan adalah Gini Ratio. Nilai Gini Ratio antara 0-1. Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Gini Ratio Maluku pada September 2020 tercatat sebesar 0,326, naik 0,008 poin dibanding keadaan Maret 2020 tercatat sebesar 0,318.

Asep menjelaskan, berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,292. Angka ini turun sebesar 0,003 poin dibanding Gini Ratio Maret 2020 yang sebesar 0,295, dan turun sebesar 0,002 jika dibandingkan Gini Ratio September 2019 yang tercatat sebesar 0,294.

Untuk daerah perdesaan Gini Ratio September 2020 tercatat sebesar 0,285. Angka ini naik sebesar 0,001 poin dibanding Gini Ratio keadaan Maret 2020 tercatat sebesar 0,284, dan turun 0,004 poin dibanding keadaan September 2019 yang tercatat sebesar 0,289.

Selain Gini Ratio ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank Dunia.

Berdasarkan ukuran itu, tingkat ketimpangan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angka berkisar antara 12-17 persen, serta ketimpangan rendah jika angka berada di atas 17 persen. (AN/KT)

Komentar

Loading...