Sudah Diperintah Kejagung, Korupsi

Kasus Bandara Neira Belum Dibuka Lagi

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, - Perkara korupsi Bandara Neira Kabupaten Maluku Tengah, pelaku utama belum juga diproses hukum.

Pengacara Yustin Tuny menilai hal itu institusi Kejaksaan tidak memiliki komitmen penegakkan hukum.

“Welmon Rikumahu hebat juga, dia menggunakan uang Rp 340 juta untuk kepentingan pribadi tetapi tidak dijadikan tersangka, sedangkan Sijane Nanlohy yang menerima fee perusahaan hanya Rp 55 juta malah ditetapkan tersangka oleh Kecabjari Banda” Kata Yustin Tuny kepada wartawan, Sabtu pekan kemarin.

Menurut Yustin, kalau Kejari Ambon Cabang (Kcabjari) Banda berkomitmen memberantas korupsi seharusnya siapapun yang terlibat harus berstatus tersangka. Yang terjadi Marthen Pelipus Parinussa dan Sijane Nanlohy dijadikan tersangka sedangkan Welmon Rikumahu bebas berkeliaran.

“Padahal welmon Rikumahu di persidangan telah mengaku kalau dia pakai uang negara Rp 340 juta tersebut untuk kepentingan pribadinya,” jelas Yustin. 

Padahal semua orang, ucap Yustin, dimata hukum sama, tapi proses hukum perkara korupsi Bandar Udara Banda Naira, Welmon Rikumahu terkesan diistimewakan oleh Kcabjari Banda. 

Welmon, ungkap dia, merupakan orang kepercayaan Marthen Pelipus Parinussa untuk mengatur Pekerjaan Pembangunan Standar Runway Bandar Uadara Banda Naira tahun 2014.

Selain Welmon Rikumahu, sejumlah pihak dalam perkara ini hanya berstatus saksi di Pengadilan Tipikor Ambon. Antara lain Petrus Marina selaku PPK, kemudian Baltasar Latuperissa selaku KPA,  Rusmin Djalal selaku Bendahara Proyek. 

Lalu Norberta Relebulan selaku Ketua unit layanan pengadaan barang dan jasa (ULP). Padahal berdasarkan fakta persidangan mereka punya andil besar terhadap timbulnya kerugian keuangan negara dalam pekerjaan Bandara Banda. 

“Bahkan juga terlibat Sutoyo selaku Direktur CV. Gria Persada Konsultan Pengawas namun Kejaksaan Negeri Ambon Cabang Banda hanya jadikan mereka saksi di persidangan,” ketusnya.

Dijelaskanen, aberdasarkan laporan pengaduan yang ia sampaikan alhasil Kejaksaan Agung RI telah meresponi laporan tersebut, yang meminta kasus Bandar Udara Banda Naira tahun 2014 dibuka kembali. 

“Hanya saja kami tidak tahu pasti mengapa belum ada tindaklanjutnya sampai sekarang,” kata Yustin Tuny. (KTA)

Komentar

Loading...