Sementara itu menurut koordinator aksi, keinginan puluhan mahasiswa untuk pulang kampung, karena selama wabah ini menimpa Kota Ambon, pihaknya tidak pernah mendapatkan bantuan. Olehnya itu mereka merasa tidak ada jaminan hidup di Kota Ambon. Pilihan pulang kampung bertemu keluarga merupakan solusi terkahir, tapi sayangnya akses transportasi ditutup.
“Persoalan ekonomi sehingga kami mengalami gangguan psikologi, karena sampai saat ini kami tidak ada jaminan kesehatan bahkan bantuan sembako. Kami akan jalani sesuai prosedur isolasi mandiri jika kami kami tiba di daerah asal,” kata dia.
Keinginan puluhan mahasiswa tersebut pulang kampung, juga karena mereka tidak tahu kapan virus ini akan berakhir.
“Kami berharap pemerintah provinsi dapat menyurati pemerintah daerah untuk dapat membuka akses pelabuhan Kota Tual dan Aru agar dapat pulangkan mahasiswa yang berada di Kota Ambon,” pintanya.
Sementara itu, Sekda Maluku Kasrul Selang menyampaikan, jika Ambon adalah zona merah. Sehingga permintaan dari tiap Bupati untuk membatasi setiap orang yang akan pulang ke daerah masing-masing.
“Sesuai keputusan Menteri Perhubungan bahwa dilarang untuk mudik dalam rangka memutuskan mata rantai sehingga apabila kami mengizinkan, maka kami melanggar keputusan pemerintah pusat,” tegasnya.
Kasrul mengaku pihaknya telah melakukan pertemuan dengan para rektor agar mahasiswa tidak diijinkan pulang. Pihaknya telah memutuskan untuk memberikan bantuan dalam pembagian sembako kepada seluruh mahasiswa dari luar Kota Ambon.
“Kami juga akan berkoordinasi dengan PELNI terkait kapal yang beroperasi dan pemerintah daerah, kalau disetujui maka pemerintah provinsi akan memfasilitasi agar mahasiswa dapat dipulangkan ke daerah masing-masing,” tandasnya.
(KTC)



























