Terpisah, juru Bicara DPP Hena Hetu, Rauf Pelu meminta Kapolda Irjen Pol Baharudin Djafar mengevaluasi kinerja Dirintel Polda Maluku.
Permintaan tersebut menyusul berkibarnya bendera RMS di sejumlah titik pada 25 April 2020. “Dirintel dan petugas piket di Mapolda Maluku harus dievaluasi. Selain berkibar di sejumlah titik, bendera benang raja kok bisa diarak masuk ke area Mapolda Maluku. Ini memalukan,” tegas Pelu, kemarin.
Sebelum HUT RMS pada 25 April, mestinya intelijen sudah mampu mendeteksi dan mencegah aksi makar ini.
“Tahun 2018 dan 2019 tidak seperti ini. Ini karena kewaspadaan yang kurang dari intelijen Polda Maluku akibatnya di tahun ini separatis RMS berbuat lebih berani. Faktanya mereka berhasil menerobos markas Polda Maluku,” tuturnya
Dikatakan, peristiwa di halaman Polda Maluku menjatuhkan kredibilitas pemerintah Maluku maupun kewibawaan institusi kepolisian di Maluku. “Jelas ini menjatuhkan kredibilitas pemerintah, menjatuhkan masyarakat Maluku secara keseluruhan dan kewibawaan institusi Polda Maluku,” tegasnya.
Agar kasus seperti ini tidak lagi terulang, setiap menjelang 25 April, dia meminta Polri memperketat penjagaan di sejumlah titik yang dianggap rawan pengibaran bendera RMS. “Simpatisan RMS ini ingin tunjukan kalau mereka masih eksis di Maluku,” kata Pelu. (KCT/KTY)



























