Wagub Hadiri Paripurna HUT Bursel

MARLON SAHETAPY/KABAR TIMUR

KABARTIMURNEWS.COM,BURSEL,-Wakil Gubernur Maluku Barnabas Orno, menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Buru Selatan (Bursel) dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Bumi Fuka Bipolo ke-11. Rapat paripurna berlangsung di ruang sidang utama DPRD Bursel, Sabtu (20/7) lalu.

Beatrixs Orno, istri Wagub Maluku, Bupati Bursel Tagop Sudarsono Soulisa, Sekda Bursel Iskandar Walla, Sekda Kabupaten Buru Ahmad Assegaf, Ketua DPRD Kabupaten Buru Iksan Tinggapi, Dandim/1506 Namlea Letkol Inf. Syarifudin Azis, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta puluhan kepala desa hadir pada paripurna tersebut.

Wagub dalam sambutannya mengatakan  terbatasnya aksebilitas berdampak pada percepatan pembangunan daerah di Kabupaten Bursel. ‘’Wilayah Bursel dan MBD tertinggal bukan karena kekurangan potensi sumber daya alam, tapi soal akses,” tandasnya.

Ia mengungkapkan sebelum dimekarkan, Bursel hanya memiliki akses jalan 11 kilometer. “Walaupun rakyat memiliki hasil komuditas yang melimpah, jika tidak memiliki akses keluar, maka daerah maupun masyarakat akan tertinggal dan terisolir,” tukas mantan bupati Maluku Barat Daya (MBD) ini.

Selain masalah infrastruktur jalan, keterbatasan akses komunikasi saat itu juga semakin mempersulit untuk mengeluarkan masyarakat dari ketertinggalan. “Andaikan Bursel dan MBD tidak dimekarkan, sampai saat ini, masyarakat masih tertinggal,” katanya.

Untuk membuka keterisolasian di Bursel, Pemerintah Provinsi Maluku di tahun 2019 telah menetapkan anggaran sebesar Rp 6 miliar, untuk pembangunan lanjutan jalan Namrole-Leksula. 

“Sebelum saya dan pak gubernur dilantik sudah ditetapkan APBD. Saya akan melaporkan kepada bapak gubernur dan mudah-mudahan atas perkenaan pak gubernur tahun 2020, semoga lebih maksimal lagi agar bisa menyelesaikan jalan Namrole-Leksula,” janji Orno.

Bupati Tagop Sudarono Soulisa dalam sambutannya menuturkan seiring dengan bergantinya waktu, hari, bulan dan tahun, tepat 21 Juli 2019 Kabupaten Buru Selatan tepat berusia 11 tahun. 

Suatu perjalanan yang dipenuhi banyak pengalaman berharga, baik suka, duka, keberhasilan dan tantangan. “Perjalanan Kabupaten Bursel adalah perjalanan bersama pemerintah daerah dan segenap masyarakat Buru Selatan. Kabupaten ini adalah rumah kita, di kabupaten ini kita hidup, bekerja, bersekolah, hingga merajut masa depan yang penuh harapan dan sejahtera. Kita juga berharap dan berdoa, agar kabupaten ini tetap menjadi kota yang baik dan nyaman bagi anak cucu kita ke depan,” kata orang nomor satu di Bumi Fuka Bipolo tersebut.

Bupati mengajak seluruh pihak memaknai perjalanan sejarah dengan membuka kembali lembaran awal ketika sebuah pemerintahan dan pembangunan dilaksanakan. “Pemerintahan dan pembangunan telah kita pahami ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. Artinya, bahwa satu tujuan utama dari sebuah pemerintahan adalah menyelenggarakan pembangunan, begitu juga pembangunan tidak pernah bisa dilaksanakan tanpa adanya sebuah pemerintahan yang kuat,” ingatnya.

Dijelaskannya pembangunan adalah proses multidimensional yang menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat. “Oleh karena itu proses dan dinamika pembangunan, haruslah dikawal dengan landasan yuridis operasional dan pendekatan yang holistik integral serta dilandasi oleh premis rasional yang tajam dengan bingkai visi dan misi yang jelas,” tegas bupati.  

Melalui visi pembangunan Bursel 2016-2021, yaitu Mewujudkan Kemandirian Buru Selatan Secara Berkelanjutan Sebagai Kabupaten Yang Rukun Berbasis Agro Marine. Visi diimplementasikan kedalam 7 misi adalah merupakan kesinambungan sekaligus upaya pemantapan kualitas pembangunan dari misi sebelumnya. 

“Dari 7 misi tersebut, menunjukkan sikap keberpihakan pemerintah kabupaten Buru Selatan kepada semua elemen masyarakat, sekaligus menegaskan upaya untuk mewujudkan buru selatan lebih mandiri, berkesinambungan, rukun, berbasis agro-marine yang bersinergi dengan dijiwai semangat siwalima dan semangat nawacita,” jelasnya.

Strategi dan kebijakan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat diarahkan antara lain memperkuat sektor perikanan dan pertanian berbasis potensi unggulan wilayah. 

“Saya mengajak segenap komponen masyarakat, stakeholder agar bersama-sama bahu membahu melanjutkan program dan kegiatan peningkatan pertanian dengan intensifikasi pertanian melalui usaha peningkatan hasil pertanian baik kualitas maupun kuantitasnya dan ekstensifikasi pertanian melalui upaya perluasan areal pertanian di kabupaten Bursel,” ucapnya. 

Pembangunan sektor perhubungan dalam upaya untuk peningkatan aktivitas ekonomi produktif masyarakat, dilakukan pemerintah daerah melalui kebijakan pemgembangan sarana dan prasarana transportasi laut maupun darat yang memadai serta terkoneksi di seluruh wilayah Bursel. Bukan hanya itu membangun infrastruktur perekonomian di pedesaan untuk mendorong kelancaran proses produksi, konsumsi dan distribusi secara integrative juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Bursel.

Kebijakan pembangunan Kabupaten Bursel juga diarahkan pada sektor pendidikan, perluasan akses kesehatan dan pengembangan pariwisata daerah maupun sektor lainnya.  

Sebelumnya Wakil Ketua DPRD Gerson Selsily dalam pidatonya menyampaikan, Kabupaten Bursel terbentuk pada 21 juli 2008 sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2008, merupakan buah dari hasil perjuangan keras para founding father daerah ini dalam satu wadah Lembaga Pemekaran Buru Selatan (LPBS).

Dikatakan, tidak mudah bagi sebuah daerah yang baru dimekarkan dapat menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi masyarakat. Stigma buruk yang menyudutkan bahwa Bursel daerah pembuangan, terisolir, miskin dan penuh mistik, didiami oleh kaum marginal menjadi motivasi untuk memekarkan daerah ini. “Dengan dimekarkannya Kabupaten Bursel stigma tersebut sedikit demi sedikit telah mengubah penilaian itu. Bahkan prestasi demi prestasi telah kita raih demi terwujudnya Bursel yang sejahtera,” tukasnya.

Tidak bisa dipungkiri terdapat berbagai problem masyarakat yang mesti diperbaiki. Misalnya ketersediaan infrastruktur, kebutuhan akan lapangan kerja yang belum terpenuhi, tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang terus meningkat.

Hasil-hasil pembangunan yang belum secara merata dirasakan oleh seluruh masyarakat di daerah terpencil, kebutuhan akan transportasi serta akses dan kemudahan berinvestasi, penanganan angka kemiskinan adalah merupakan sebagian kecil dari permasalahan yangf menjadi pekerjaan rumah.

“Kenyataan tersebut mestinya mampu kita jadikan bahan evaluasi yang memotivasi kita untuk terus berjuan dan berbenah secara cerdas, proporsional di tengah-tengah tantangan arus globalisasi informasi dan teknologi,” tegasnya.

Dia berharap momentum HUT ini harus dimaknai untuk menerungkan kembali tentang berbagai hal bagi pengembangan kemajuan Bursel ke depannnya.  (KTL)

Penulis:

Baca Juga