Sekilas Info

Murad Ismail Yang Mengapresiasi Pendahulunya

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Gubernur Maluku baru, Murad Ismail, seorang negawaran sejati, pemimpin sejati yang tidak pernah melupakan sejarah. Sepahit apapun sejarah masalah lalu, Maluku yang tidak pernah maju, terpuruk predikatnya sebagai provinsi termiskin ketiga di Indonesia, tapi para pemimpin masa lalu Maluku tetap diapresiasi dengan penuh rasa hormat pada narasi pidato perdana sebagai Gubernur Maluku, pekan lalu.

Sebagai mantan jenderal bintang dua polisi yang bernampilan terkesan garang, dari narasi-narasi pidatonya, Murad Ismail sejatinya bisa dilukiskan sebagai pemimpin yang tidak lupa diri, penyayang dan adil. Berbeda ketika proses-proses politik Pilkada Maluku berjalan, Murad yang kerap tampil menghantam dengan kata-kata kasar, tak lagi tampak dan membumi di ruang-ruang publik, sejak terpilih hingga resmi dilantik.

Menyimak isi pidatonya setelah resmi menjabat Gubernur, Murad memiliki spirit yang luar biasa membangun Maluku untuk menjadi lebih baik. Baik, dari predikat Maluku sebagai provinsi termiskin, pelayanan pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik menjadi prioritas utama. Setidaknya, sejarah pemimpin masa lalu Maluku telah menginspirasi Murad untuk dapat mengubah Maluku dari Miskin menjadi kaya.

Maluku kaya, Maluku adil, Maluku sejahterah dan lain-lain, bukan saja menjadi keinginan Murad Ismail selaku Gubernur baru, tapi, kaya, adil dan sejahterah, jadi harapan seluruh masyarakat Maluku, yang merindukan pemimpin yang benar-benar merasakan denyut nadir rakyatnya.

Ketidakadilan birokrasi (penataan pejabat), ketidakadilan proses-proses pelelangan paket-pekat proyek, praktek-praktek, koncoisme, nepotisme, balas budi politik, yang selama ini menghiasi kepemimpinan Maluku dari episode ke episode juga harus mendapat prioritas utama Murad dalam menjalankan kepemimpinan Maluku lima tahun ke depan.

Pasalnya, ketidakadilan yang telah membudaya sebagaimana diatas jika tidak dibersihkan dalam prioritas utama kerja kepemimpinan Murad-Orno, bukan tidak mungkin, tapi upaya untuk mengubah Maluku agar menjadi lebih baik akan berjalan ditempat, meski seribu investor berhasil didatangkan.

Semua menjadi percuma dan mubazir, ketika hal-hal menyangkut ketidakadilan dan, koncoisme, nepotisme, balas budi politik atau “anak emas,” pejabat emas dan pembisik emas, masih ada dalam kepemimpinan Murad Ismail, maka semua mimpin Maluku dan Maluku bisa hanya jadi penghantar lelap si buyung tidur.

Koncoisme, nepotisme, balas budi politik, anak emas, pejabat emas, pembisik emas dan cukong emas, adalah virus yang selama ini menyebabkan Maluku tidak pernah maju dan bersaing dengan daerah atau provinsi lainnya di Indonesia.

Pertanyaannya, apakah Murad Ismail mampu membersihkan virus-virus itu dalam memimpin Maluku lima tahun kedepan? Belajar dari sejarah gagalnya Maluku selama ini, ada pada pemimpinnya. Karena itu, mengapresiasi para pemimpin pendahulu merupakan introspeksi diri berharga bagi seorang pemimpin yang berjiwa kasatria, seperti Murad Ismail.

Kenapa Maluku gagal keluar dari kemiskinan, kenapa pendidikan tidak maju, pelayanan kesehatan dan publik tidak maksimal. Salah satu indikator utama adalah: Maraknya praktek-praktek, koncoisme, nepotisme, balas budi politik, anak emas, pejabat emas, cukong emas dan sebagainya, yang endingnya muncul ketidakadilan, yang kaya menjadi kaya dan yang miskin tetap miskin dan merana. (KIE)

Penulis:

Baca Juga