KABARTIMURNEWS.COM, AMBON – Di wilayah laut Banda terdapat gunung bawah laut. Terdapat 75 patahan, yang perlu diantisipasi lebih awal sehingga tidak terjadi bencana yang akan korban masyarakat.
Kepala Badan Nasional Pencegahan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo mengungkapkan, Maluku termasuk daerah rawan bencana. Sesuai data beberapa kabupaten/kota di Maluku termasuk indeks resiko bencana dengan kategori tinggi dan sedang.
Ini dibuktikan, dalam kurun lima tahun terakhir telah terjadi 60 bencana di wilayah Maluku berupa gempa bumi, angin puting beliung, tanah longsor dan banjir. Di tahun 2018 telah terjadi 1.800 kali gempa, dan terbaru 7 April di laut Banda dengan kedalaman 600 km dibawah permukaan laut.
Di wilayah laut Banda terdapat gunung bawah laut dan 75 patahan.Untuk itu perlu diantisipasi lebih awal sehingga tidak terjadi bencana yang akan mengorbankan masyarakat.
“Ini kalau tidak diantisipasi, maka bencana tsunami yang memakan korban ribuan jiwa terjadi pada tahun 1675 di Pulau Ambon juga bisa akan terjadi,” kata Monardo pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Maluku tahun 2020 di gedung Islamic Center, Ambon, Selasa (9/4).
Mantan Pangdam Pattimura ini meminta walikota/bupati di Maluku memikirkan langkah pencegahan mengantisipasi mengingat tsunami adalah bencana yang cepat, kecepatannya mencapai 700 km/jam.
“Potensi bencana diharapkaan bisa diketahui seluruh pejabat, tokoh masyarakat sampai tingkat paling rendah, yakni keluarga. Mengingat penduduk paling besar berada di pesisir pantai. Perlu ada mitigasi dan strategis berkelanjutan untuk mengurangi resiko bencana,” katan mantan Pangdam Siliwangi ini.
Monardo meminta Pemda Provinsi Maluku maupun kabupaten/kota mengefektifkam simulasi bencana. “Provinsi Bali melaksanakan simulasi bencana tiap bulan, Maluku harus demikian dan pelaksanaannya harus sampai ke tingkat paling rendah desa maupun RT, kenali ancamannya siapkan strateginya,” pintanya.



























