Sekilas Info

Orang Maluku Tidak Takut Istri

TINGKATKAN KESEHATAN : Menteri Kesehatan Nila Moeloek (tengah) memberikan pemaparan pada Rakerkesda Provinsi Maluku Tahun 2019 di Santika Hotel, Ambon, Senin (8/4). Ruzady Adjis/Kabar Timur

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Usia hidup orang Maluku masih berada dibawah rata-rata nasional. Di Maluku, usia hidup rata-rata adalah 64 tahun. Rinciannya laki-laki 64,5 tahun, sedangkan perempuan 64,3 tahun. Sementara rata-rata usia hidup orang Indonesia 71 tahun.

Demikian dikatakan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menghadiri Rakerkesda Provinsi Maluku tahun 2019 di Ambon, Senin (8/4).

Sambil bercanda, Moeloek menyebutkan perbedaan usia hidup antara laki-laki dengan perempuan di Maluku bisa dikarenakan laki-laki di Maluku tidak takut istri. “Rupanya orang Maluku ini tidak takut istri, sehingga bisa hidup panjang laki-lakinya, itu barangkali kuncinya,” kata Moeloek disambut tawa undangan yang hadir di Rakerkesda.

Dia agak heran mengapa usia hidup orang di Maluku berada di bawah nasional, padahal Maluku warganya makan ikan, punya pantai dan pandai bernyanyi.

Masih dengan kelakarnya. Moeloek akan melaporkan warga Maluku yang malas makan ikan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, untuk ditenggelamkan.

Candaan itu disampaikan Moeloek menanggapi angka stunting (kekerdilan pada anak) di Maluku yang masih tergolong di atas angka rata-rata nasional. Angka stunting di Maluku mencapai 34 persen dari sebelumnya 40,6 persen. Sementara angka stunting nasional 30,8 persen, turun dari sebelumnya 37,2 persen.

Menurutnya, seharusnya sumber gizi dan protein di daerah kepulauan seperti Maluku ini tidak kekurangan hasil laut yang berlimpah dan bisa diperoleh dengan harga murah di pasar.

“Kalau mereka tidak mau makan ikan, saya selalu bilang nanti akan saya adukan ke Ibu Susi, untuk ditenggelamkan ibu Susi. Bukan kapalnya tapi orang-orangnya,” ucap Moeloek diikuti gelak tawa peserta.

Rakerkesda Maluku tahun 2019 mengusung tema “Kolaborasi Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Menuju Cakupan Pelayanan Kesehatan Semesta Guna Mewujudkan Maluku Sehat.

Moeloek memuji kinerja Pemda Maluku atas usaha dalam menurunkan angka stunting.

“Walaupun angka masih di atas rata-rata nasional, tapi upaya yang dilakukan provinsi Maluku ini luar biasa. Ini kepulauan tidak sama dengan daerah lainnya yang aksesnya gampang. Justru yang sedikit ini kita harus tetap melindungi mereka. Pelayanan kesehatan harus dimulai dengan memberikan pengertian dan pengetahuan kepada masyarakat, sebenarnya stunting itu tidak boleh terjadi di Maluku,” kata dia.

Kemenkes tengah gencar mensosialisasikan program “Isi Piringmu” agar protein dan gizi bisa diperoleh dengan baik.

“Kementerian Kesehatan sedang membuat program isi piringmu, bagaimana susunan makanannya. Sagu dan ikan itu bagaimana enaknya, ada pisang juga,” tuturnya.

Solusi yang bisa diterapkan agar menekan angka stunting adalah memperhatikan pola asuh anak, pola gizi yang harus diperhatikan oleh ibu hamil maupun memperhatikan pola ASI.

ANGKA KEMATIAN IBU

Menkes Moeloek juga dalam pemaparannya menyatakan, menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan neotermal (bayi) di daerah gugus pulau seperti Maluku juga menjadi masalah tersendiri.

Maluku kematian walaupun turun tapi masih di nomor dua karena minus 39, angka kematian ibu (AKI). Kabupaten Kepulauan Tanimbar turun memuaskan, tapi neoratal tetap tinggi.

“Transportasi reguler tidak tersedia, mahalnya transportasi, SDM rendah, rentang kendali yang luas, distribusi logistik yang tidak terjamin dan kondisi alam. Saya kira ini betul seperti di Maluku Utara,” kata Moeloek.

Untuk itu kata dia, perlu terobosan untuk menekan AKI dan neotermal bagi daerah gugus pulau. “Kami kemarin di pusat sedang membicarakan menggunakan drone untuk mengangkut (distribusi) seperti obat, vaksin dan sebagainya. Tapi saya bilangnya seperti darah terlebih dahulu, karena rata-rata AKI itu disebabkan pendarahan. Saya menolak dengan vaksin, karena virus. Namun kami minta uji coba dilakukan di kepulauan, namun masalah teknisnya, masih repot,” sebutnya.

Untuk pelayanan kesehatan, Moeloek meminta Pemda Maluku bukan hanya mengobati, tapi mulai dari promotif, perfentif sampai ke variatif serta pelayanan yang berkualitas.

Misalnya seperti kasus Tubercolosis (TB), harus dilakukan pengecekan langsung ke rumah-rumah. Karena apabila dalam satu keluarga ada yang tekena TB, akan terjangkit ke anggota keluarga lainnya.

Dia mengapresiasi terobosan yang dilakukan Dinkes Maluku dengan program door to door menyembeuhkan penderita TB. Begitu juga dengan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes.

Menurutnya, perlu dilakukan hal yang sama serta diberikan pemahaman dan pengetahuan agar masyarakat paham. “Kalau perlu diteror supaya tidak sakit,” ucapnya. Sebab kesehatan adalah kebutuhan dasar dari masyarakat.

Moeloek berharap kehadiran RSUP di Ambon melalui pola pelayanan kesehatan gugus pulau bisa menjadi rujukan pulau-pulau di Maluku.

Plh Gubernur Maluku, Hamin bin Thahir menielaskan, pendekatan gugus pulau adalah satu strategi Dinkes Maluku dalam memberikan pelayanan kesehatan pada satuan gugus rujukan pelayanan kesehatan. Terlebih dengan kehadiran RSUP di Ambon, Maluku.

Kepala Dinas Kesehatan Maluku, Meikal Pontoh menyatakan, Bappenas telah menetapkan pelayanan kesehatan gugus pulau di Maluku sebagai strategi pelayanan kesehatan di Maluku dan kepulauan. “Artinya ini tinggal diperkuat lagi dengan peraturan Menkes karena ada delapan provinsi kepulauan dan peraturan gubernur kami sudah ada,” ujarnya. (RUZ)

Penulis:

Baca Juga