Sekilas Info

Guru SMP Saparua Mendidik Siswi dengan Cara Mencubit

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Tersangka kasus penganiayaan terhadap anak dibawa umur, Josina C. Saptenno, oknum guru SMP Negeri 7 Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, mengaku perbuatannya mencubit anak didiknya sendiri berinisial MTP hingga terluka merupakan salah satu cara mendidik murid nakal. Padahal, masih banyak cara didikan lainnya yang tidak menyebabkan anak menjadi terluka.

“Bahwa kami tegaskan tindakan yang dilakukan klien kami kepada Siswi MTP adalah bentuk sebagai upaya mendidik siswa–siswi yang bersekolah di SMP 7 Saparua agar dapat disiplin,” kata tersangka melalui kuasa hukumnya Edward Diaz kepada Kabar Timur, Rabu (27/3).

Peristiwa itu berawal ketika ketika terjadi kekosongan guru mengajar pada Kelas IX 2 SMP Negeri 7 Saparua yang ditempati korban. Kekosongan mata pelajaran itu membuat para siswa menjadi ribut, termasuk korban. Keributan tersebut mengganggu aktifitas belajar pada sebelahnya.

“Sehingga klien kami masuk menegur Kelas tersebut sampai 3 kali. Namun siswa siswinya tetap berulah ribut, kemudian klien kami kembali masuk lagi kedalam kelas dan menegur dengan cara memberikan soal matematika dengan catatan apabila ada yang tidak bisa mengerjakan maka akan mendapat hukuman dari klien kami,” jelasnya.

Diberikan tugas, tidak satupun siswa di kelas itu mengejarkan soal matematika yang diberikan tersangka. Sehingga dengan maksud untuk mendidik siswa siswi tersebut, tersangka kemudian mencubit seluruh siswa siswi di dalam kelas tersebut.

“Inti dari kejadian tersebut adalah klien kami tidak bermasud atau memiliki niat sedikitpun untuk melakukan tindakan penganiayaan. Tujuan utamanya yaitu klien kami sebagai Guru pada sekolah tersebut ingin memberikan didikan tegas kepada siswa siswi yang nantinya akan mengikuti Ujian Nasional Sekolah,” tambahnya.

Edwar mengajak semua pihak untuk menghargai proses hukum yang sedang berjalan pada tingkat penyidikan. Sebab, secara hukum pidana, terdapat Asas Hukum Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence).

“Kami minta kepada publik untuk tidak menyatakan klien kami telah bersalah melakukan perbuatan tindak pidana penganiayaan sebelum adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Ada beberapa media cetak dan elektronik menuliskan jabatan klien kami sebagai Pejabat Kepala Desa Ouw. Padahal kapasitas dalam tindakan sebagai Guru Pendidik pada SMP 7 Saparua,” tandasnya.

Sebelumnya, penyidik unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, akhirnya menetapkan Josina C. Saptenno, sebagai tersangka. Ia dijerat menggunakan Pasal 80 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 3,6 Tahun penjara.

Penjabat Kepala Desa Ouw, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah ini diduga menganiaya muridnya sendiri berinisial MTP. Kasus tindak pidana penganiayaan terhadap anak ini dilaporkan Martha Pelupessy, orang tua siswi tersebut di Satuan Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Saparua, Kamis (24/1) lalu. Kasus ini kemudian dilimpahkan untuk ditangani penyidik unit PPA Polres Ambon. (CR1)

Penulis:

Baca Juga