Sekilas Info

Warga Ambon Ditemukan Berenang Menuju Ambalau

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Maksud Fajar Muhidin sebenarnya baik. Warga Kebun Cengkeh, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, ini menyiarkan ajaran agama Islam. Tapi caranya tergolong aneh. Bagaimana tidak, Dia nekat berenang antar Pulau. Padahal, masih terdapat alat transportasi laut.

Pemuda 26 Tahun ini ditemukan sedang berenang menyeberangi lautan. Dia berenang dari Desa Wamsisi, Pulau Buru hendak menuju Pulau Ambalau, Kabupaten Buru Selatan, Sabtu (23/3), sekira pukul 18.30 WIT. Warga awalnya menyangka Fajar adalah orang gila.

Saat ditemukan sedang berenang menuju Pulau Ambalau, Fajar menggunakan tas yang dibungkus kantong pelastik. Tasnya itu dijadikan sebagai pelampung. Dia juga membawa tongkat kayu yang dililit dengan kawat, garis police line dan parang (senjata tajam).

Saat berenang menuju Pulau Ambalau, Fajar ditemukan seorang nelayan Desa Waelikut, Kecamatan Waisama, Kabupaten Buru Selatan. Kala itu, Nelayan ini sedang memancing ikan.

“Karena Fajar membawa parang, Nelayan itu takut mendekat. Ia kemudian balik dan melaporkan ke pos Satgas BKO Yonif 711/Raksatama, Desa Waelikut untuk melaporkan kejadian tersebut,” ungkap Sumber kepada Kabar Timur.

Mendapat laporan warga nelayan, Komandan Pos Satgas BKO Yonif 711/Raksatama Sertu Ahmad Ripandy, melaporkan kepada atasannya, Kapolsek Waesama dan Koramil terdekat. Kemudian mengambil langkah penyelamatan.

“Sejumlah personel bersama warga kemudian menggunakan longboat. Mereka menuju arah Fajar yang sedang berenang. Fajar kemudian ditolong dan dibawa kembali ke Waelikut,” jelasnya.

Di Waelikut, Fajar diinterogasi. Dia mengaku mengelilingi Pulau Buru selama kurang lebih 30 hari. Caranya unik, yaitu dengan berjalan kaki. Bahkan jika dirinya melihat Pulau seberang yang berpenghuni, Dia nekat berenang.

Fajar membawa tas berwarna hitam. Isinya pakaian, KTP, Peta, Alquran, obat-obatan, flash dics, memori Handphone (HP), HP, document, dan sejumlah catatan. Dia akan singgah dan beristirahat di setiap Desa, jika ada warga yang mau menerimanya.

“Motifnya hanyalah untuk berpetualangan dan mencari jati diri dan tidak ada paham radikal yang menyimpang,” jelasnya.

Peristiwa itu selesai setelah hadirnya Ustad Fandy. Fajar bermukim di rumah Fandi yang berada di Desa Waisama. Fandi kemudian dibawa kembali ke Desa Waisama.

“Bapak Fandi kemudian menjelaskan maksud dari temannya tersebut nekat berenang menyeberangi Pulau Ambalau. Menurutnya ini hanyalah kesalahpahaman,” tandasnya.

Kepala Polsek Waesama Iptu Jainudin yang dikonfirmasi Kabar Timur dari Ambon tadi malam membenarkan adanya peristiwa tersebut. Dia mengaku, Fajar berpetualang dari Kampung ke Kampung yang ada di Pulau Buru.

“Dia ini kalau antara pulau ke pulau dia berenang. Dia alamatnya di Kebun Cengkeh Ambon. Kalau di sini dia alamatnya di Wamsisi. Tadi saya marah ustad itu (Fandy), kenapa 3 hari tinggal di Wamsisi tidak melaporkan ke desa atau ke aparat keamanan,” kata Jainudin melalui telepon genggamnya.

Tujuan Fajar berjalan kaki antar satu desa ke desa lain, kemudian berenang antar Pulau adalah untuk menyiarkan ajaran agama Islam. Hasil pemeriksaan barang bawaannya, juga tidak terdapat hal-hal yang membahayakan.

“Dia mengajak orang shalat. Dia ditemukan berenang menuju Ambalau. Dia kemudian dilarang berenang karena jarak antara Pulau Buru dan Ambalau cukup jauh. Memang dilihat pandangan mata itu dekat, tapi menyeberang menggunakan speedboat saja jauh,” jelasnya.

Pagi kemarin Fajar telah melanjutkan perjalannya. Dia rencananya menuju Desa Lena, Wamsili, dan Waitawa. Dia kemudian akan menyeberang ke Batabua dan kemudian menuju Namlea, Kabupaten Buru.

“Karena memang dia tinggal di Namlea. Saya cek informasi tadi, dia tinggal di masjid dermaga di Namlea. Karena memang di belakang masjid itu ada beberapa orang tinggal disitu. Orang kira dia orang gila. Ternyata bukan,” tandasnya. (CR1)

Penulis:

Baca Juga