Sekilas Info

BNNP Maluku SP3 Kasus Narkoba Oknum Polisi?

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku diduga telah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) perkara narkoba dengan tersangka Aiptu Alwi Satu, oknum Polda Maluku.

Informasi yang dihimpun Kabar Timur, SP3 perkara narkoba yang melilit oknum polisi Alwi, yang diduga berperan sebagai bandar narkoba ini dikeluarkan Februari 2018. “Katanya sudah SP3. Coba cek di BNNP dan Kejati Maluku,” kata Sumber Kabar Timur yang meminta namanya tidak disebutkan.

Untuk diketahui, Aiptu Alwi ditetapkan sebagai tersangka bersama La Jimi, kaki tangannya. Mereka mendekam di rumah tahanan BNNP di Karang Panjang Ambon setelah penyidik menemukan barang bukti uang, hasil penjualan narkotika. Barang bukti didapat setelah rumah Alwi digeledah.

Alwi sebelumnya diperiksa sebagai saksi bersama La Jimi, setelah penyidik BNNP berhasil meringkus Evan Nasela, kaki tangannya saat sedang bertransaksi narkoba jenis sabu-sabu Juli 2018, lalu. Usut punya usut, Evan bernyanyi jika sabu tersebut milik Alwi.

Karena Alwi merupakan oknum Polda Maluku, Kepala BNNP yang kala itu dijabat Brigjen Pol. Rusno Prihardito meminta ijin pimpinannya melakukan pemeriksaan terhadap dirinya.

“Tidak ada penangkapan. Mereka diserahkan ke saya oleh direkturnya, nggak ada bb (barang bukti). Hasil pemeriksaan baru ditemukan bb uang hasil kejahatan dari Alwi,” kata mantan Kepala BNNP Maluku Brigjen Rusno Prihardito saat dikonfirmasi Kabar Timur, Jumat (1/3).

Rusno mengaku, tidak pernah mengeluarkan SP3. Sebab, baginya kasus itu sudah cukup bukti yang kuat yaitu uang hasil kejahatan. Para tersangka pun sudah mengakui perbuatan mereka. “Saya tidak pernah SP3. Karena cukup barang bukti uang hasil kejahatan dan keterangan saksi,” tambahnya.

Dimasa menjabat sebagai Kepala BNNP, kata Rusno, kasus tersebut menjadi perhatiannya. Kala itu, perkara itu sudah dalam tahap penyidikan. Namun, tak lama berselang, rumah dinas yang ditempatinya digrebek tim gabungan Polda Maluku.

“Waktu itu kasus dalam tahap penyidikan BNNP. Mereka (Alwi dan Jimi) ditahan. Tiba-tiba ada skenario penggerebekan rumah dinas. Semua jadi kacau, karena saya keburu ditarik (diganti). Selanjutnya saya nggak lagi berwenang,” jelasnya.

Kasus tersebut, tambah Rusno, diselidiki oleh penyidik Remal Patty, Andre Saban dan Romelus. “Mereka (3 penyidik BNNP) ditahan di Polda (saat penggerebekan rumah dinas), yang saya nggak ngerti,” terangnya.

Rusno mengisahkan, saat penangkapan terhadap La Jimi, tersangka itu dalam kondisi On berat. Ia menggunakan narkotika jenis Sabu dan Ganja. “Tiga hari baru bisa periksa (Jimi) karena habis pake sabu dan ganja. Setelah 3 hari baru sadar, baru cerita apa adanya,” kisahnya.

Saat Alwi dan Jimi digelandang menuju Markas BNNP Maluku di Karang Panjang, Rusno mengaku ditengah perjalanan mereka membuang handphone (HP) saat berada di dalam mobil. “Hp milik Alwi dibuang di Jembatan Merah Putih dan Hp La Jimi dibuang ditanjakan ke BNN. Saya lupa persisnya,” tambah Rusno.

Rusno mengaku, Alwi mengambil barang dari Ko Apin di bandara. Ia dikawal sama unitnya. Barang tersebut kemudian diedarkan. “Itu cerita bener. Tanya ke Remal Patty. Itu dia tau persis. Remal Paty itu korban. Suruh mereka buka di sidang apa adanya,” tandasnya.

Kepala BNNP Maluku Brigjen Pol. M. Aris Purnomo yang dikonfirmasi Kabar Timur melalui aplikasi android Whatsaap, hingga berita ini dikirim belum membalas. Hal yang sama juga saat mengkonfirmasi Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette. (CR1)

Penulis:

Baca Juga