Sekilas Info

Penyidik BNNP Diduga Salah Tangkap & Aniaya Warga

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Setelah ditangkap, dua penyidik sipil BNNP Maluku paksa dan menghajar Fuad hingga babak belur. Dia paksa mengakui sebagai pemakai Narkoba. Tak ada barang bukti yang disita sewaktu penangkapan.

Tiga penyidik Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), Maluku, Rabu 20 Februari 2019, skitar pukul 05. 30.WIT, dinihari, menangkap dua warga Kota Tual, diduga sebagai pemakai Narkoba. Ketiga penyidik tersebut diantaranya: Bripka Chairil A. Lewenussa, Rezky Pratama Masuku dan Risman.

Salah seorang yang ditangkap diketahui bernama Irfan. Irfan ditangkap bersama kekasihnya. Selanjutnya, siangnya pukul 12.30. WIT, mereka menangkap Fuad Hajar Thaha. Penangkapan terhadap dilakukan bak penangkapan teroris.

Fuad ditangkap, di jalan kawasan Warhir, Kota Tual. Begitu ditangkap, Fuad dimaksukan ke mobil ketiga penyidik BNNP itu. Bertandang ke Redaksi Kabar Timur, Kamis, kemarin, Kahar, Ayah dari Fuad menuturkan, anaknya dihajar (dipukul), dua penyidik sipil BNNP Maluku hingga babak belur, untuk meminta anaknya mengakui sebagai pengguna Narkoba.

“Sejak dimasukan ke mobil hingga menuju ke bandara, anak saya terus dipukuli dua penyidik sipil, hingga babak belur. Sampai saya bertemu anak saya di tahanan BNNP Maluku, bekas-bekas pemukulan itu masih ada,” tutur Kahar yang didampaingi pengacara Lukman Matutu,SH dan rekan.

Perlukuan tidak manusiawi dua penyidik BNNP Maluku, hendak diproses. “Kami akan proses masalah ini. Kami meminta agar anak saya divisum untuk kepentingan laporan penganiayaan, tapi kami selalu dipersulit dengan dalih Kepala BNNP Maluku sibuk,” tutur Kahar.

Penganiayaan yang dilakukan dua penyidik, kata Kahar, diluar batas kemanusiaan. “Mereka tidak hanya melakukan penganiayaan, tapi juga meludahi anak saya, hingga mengancam dengan senjata milik penyidik polisi untuk menghabisi anaknya,” tuturnya, seraya memastikan anaknya tidak tersangkut Narkoba.

Bahkan, dalam penangkapan yang dilakukan tiga penyidik BNNP Maluku tidak ada bukti-bukti berupa narkoba yang dikantongi anaknya. Selain itu, tes urine yang diklaim anaknya positif tidak dapat patut diuji. Pasalnya, anaknya sendiri mengaku tidak tahu menahu dengan urine yang diteas penyidik. “Jadi ada kemungkinan urine yang diklaim itu direkayasa,” sambung Pengacara Lukman Matutu.

Lukam memintah, BNNP Maluku harus memberikan kesempatan kliennnya untuk divisum terkait laporan penganiayaan. “Jangan dipersulit. Biarkan kami meminta visum atas tindakan penganiayaan diberikan sehingga proses hukum tindak pidana penganiayaan yang dilakukan penyidik dapat berjalan,” tegas,

Tak hanya itu, BNNP Maluku juga bakal dipraperadilan atas penangkapan tanpa surat penangkapan itu. “Semua materi dan bukti sudah kita kantongi. Insya Allah, Senin, pekan depan sudah dimaksukan ke Pengadilan Negri Tual,” sambung Lukman.

Yang pasti lanjutnya, tidak ada bukti apapun berupa Narkoba saat penangkapan itu dilakukan. “Setahu kami, korban tidak pernah memakai narkoba. Dia ditangkap tanpa barang bukti. Dia dipaksa untuk memberitahukan dimana narkotika disimpan,” ujarnya.

Korban telah menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah mengetahui terkait narkotika. Namun dia tetap digelandang. “Korban di pukul dari TKP sampai naik pesawat,” ujarnya.

Kepala BNNP Maluku Brigjen Pol M. Aris Purnomo yang dikonfirmasi Kabar Timur membantah adanya peristiwa tersebut. “Nggak benar itu, kita proses (korban) lanjut kok,” kata Aris membalas pesan Kabar Timur melalui aplikasi Whatsaap, Kamis (28/2).

Tanpa barang bukti korban ditangkap. Dia lalu dianiaya karena enggan memberitahukan narkotika yang disimpannya. Padahal, warga sekitar mengenalnya tidak pernah memakai narkotika. “Lah, kita tunggu saja di pengadilan to,” balas Aris.

Jenderal Bintang Satu ini tetap enggan membuka barang bukti apa yang dikantongi anak buahnya saat menangkap korban. “Ya pokoknya cukup buktilah, masak mau sy (saya) buka? Masih proses,” jelasnya. (KT)

Penulis:

Baca Juga