Sekilas Info

Awal 2019 Kasus Narkoba Meningkat

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Angka perkara Narkoba pada periode pertama tahun 2019, mengalami peningkatkan dibanding periode tahun sebelumnya. Ini setelah tim Satresnarkoba Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, berhasil meringkus 11 orang tersangka.

Belasan tersangka yang dibekuk sejak Bulan Januari hingga Februari 2019 adalah YWC, PU, SM, FM, HH, MN, SO, R, IW, SJ, dan AZ. Mereka diringkus di sejumlah wilayah berbeda di Kota Ambon.

“Tahun 2019 dari Januari sampai Februari di minggu pertama sudah ada 10 kasus dengan 11 tersangka yang berhasil diungkap,” kata Kapolres Ambon AKBP Sutrisno Hady Santoso kepada awak media di Mapolres Ambon, Kota Ambon, Senin (4/2).

Hady mengatakan, belasan tersangka diamankan bersama sejumlah barang bukti narkotika seperti ganja, sabu dan tembakau sintetis atau tembakau gorila. Belasan tersangka tersebut kini telah dijerumuskan ke dalam rumah tahanan Polres Ambon.

Ke 11 tersangka yang diamankan diketahui berprofesi sebagai pegawai swasta, tukang ojek dan juga pengangguran.

“Para tersangka yang diamankan merupakan pemakai, dan juga pengedar. Ada yang baru memakai (narkoba), ada yang sudah lama dan ada juga yang sudah menjadi TO (target operasi),” ungkap Hady.

Saat ini, tambah Hady, berkas perkara belasan tersangka sedang dalam tahap pemberkasan untuk dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Ambon.

“Pengungkapan kasus narkoba mengalami peningkatan di periode pertama tahun ini bila dibanding periode pertama tahun 2018.

Klasifikasinya bandar narkoba 20 persen, pengedar 40 persen, dan pemakai 40 persen. Bulan Januari barang bukti yang disita yaitu ganja seberat 7,3 gram, dan sabu 8,6 gram. Sementara Februari, sabu yang disita seberat 11 gram milik tersangka AZ,” ujarnya.

Hady mengaku pada tahun 2018 lalu, pihaknya mengungkap sebanyak 59 kasus dengan jumlah tersangka 69 orang. Barang bukti yang disita yaitu ganja seberat 6.615 gram, sabu 83,68 gram, Pil PCC 100 butir dan tembakau sintetis atau tembakau gorila 10 gram. “Klasifikasinya adalah bandar 27 persen, pengedar 50 persen dan pemakai 23 persen,” katanya.

Dikatakan, sejumlah barang haram itu berasal dari sejumlah daerah yang berada di luar Daerah Provinsi Maluku. Untuk ganja sendiri kebanyakan berasal dari Aceh yang dipasok melalui Papua dan Jakarta. Sedangkan sabu dari Jakarta, Makassar, Sulawessi Selatan dan Surabaya, Jawa Timur.

“Kalau PCC dari Kendari (Sulawessi Tenggara) dan tembakau gorila dari Bandung. Tembakau Gorila penjualannya melalui online yang diungkapkan tim Ciber Polres,” ujarnya.

Untuk narkotika golongan I jenis ganja dan sabu, pengirimannya ke wilayah hukum Polres Ambon melalui kurir, dan jasa pengiriman transportasi laut maupun udara. “Pengedar ingin cari keuntungan. Sementara pemakai biasanya untuk menghilangkan stres,” tandasnya. (CR1)

Penulis:

Baca Juga