Sekilas Info

Isu Tsunami, Warga Namrole Mengungsi, 8 Rumah Kei Kecil Rusak

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM,  NAMROLE - Cuaca ekstrim menghantam sejumlah wilayah di Maluku, Kamis (24/1). Di Namrole, Kabupaten Buru Selatan ribuan warga mengungsi setelah isu tsunami menyebar.

Naiknya permukaan air laut akibat ombak besar menghantam bibir pantai Namrole dan sekitarnya, disertai isu tsunami membuat  masyarakat di Ibukota Kabupaten Buru Selatan itu, panik.

Tinggi gelombang laut dipicu gempa bumi yang terjadi di sekitar Namrole, Kamis dini hari. Kepanikan dan suasana mencekam menghinggapi warga Kamis dini hari atau pukul 04.00 WIT. Tangisan ibu dan anak-anak pecah, begitu mendengar isu tsunami bakal menghantam kota Namrole. Ribuan warga berhamburan keluar rumah, lorong dan jalan raya untuk menyelamatkan diri. Warga berlari mencari tempat atau lokasi yang tinggi menghindari terjangan tsunami.

Jalan raya di Namrole dipadati warga yang mengungsi menggunakan kendaraan bermotor. Kemacetan pun sempat tidak terhindarkan. Banyak warga yang berlari dengan membawa barang seadanya untuk menyelamatkan diri ke arah kilometer  tiga sebagai wilayah  yang  dianggap aman.

Hanya sedikit warga yang memilih bertahan di rumah  sambil memantau kondisi sekitar tempat tinggal mereka. Masyarakat yang mengungsi terlihat membawa tas dan kebutuhan seadanya. Bocah usia balita terpaksa digendong untuk mengungsi menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan.

“Kita ini panik dengan berita air naik (tsunami). Tetangga yang mengetahui informasi gelombang besar dan pergerakan muka air laut yang naik, datang ketuk pintu membuat kita semua mengungsi,” kata Rudi, salah satu warga Desa Labuang yang harus  mengungsi bersama keluarganya.

Ia mengungkapkan, informasi tsunami akibat naiknya permukaan air laut di bibir pantai Kota Namrole membuat warga panik. Alasannya, sudah banyak terjadi tsunami di sejumlah daerah di Indonesia yang menewaskan ribuan orang.

“Kita tidak mau ambil resiko. karena bencana tsunami sudah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Sehingga informasi yang kita terima adanya ombak besar dan pergerakan air laut membuat kita harus mengungsi untuk menyelamatkan diri,” ujarnya sambil berjalan menuju kawasan kilometer III yang datarannya lebih tinggi.

Kepanikan juga dirasakan, Ida dan sejumlah warga Namrole. Ia mengaku informasi  tsunami diperoleh dari keluarganya di Desa Walbelle, Kecamatan Kepala Madan. ”Informasi itu dari saudara-saudara saya di kecamatan kepala Madan. Katanya air laut sudah naik dan masuk ke pemukiman mereka. Informasi   ini membuat kita panik dan mengungsi,” kata Ida.

Sebelum terjadinya ombak besar itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geosfisika   (BMKG) merilis terjadi gempa bumi berkekuataan 3,4 skala ricther. Gempa terjadi pukul 01:06.51 WIT pada titik koordinat 4.04 LS-126.56 BT dengan kedalaman 31 Km, Namrole, Kabupaten Buru Selatan.

Namun gempa tidak menimbulkan tsunami. Dengan memperhatikan  lokasi episenter dan kedalaman hiposenter gempa bumi yang terjadi adalah gempa bumi dangkal.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Buru Selatan  Awat Mahulauw mengungkapkan, hingga siang kemarin, belum ada laporan adanya kerusakan  akibat gempa yang terjadi. “Sampai sekarang kita belum dapat informasi ada kerusakan terkait gempa,” ungkapnya.

Mahulauw mengapreasi langkah masyarakat yang berinisiatif untuk mengungsi setelah mendapatkan informasi naiknya air laut. ”Ini langkah spontan yang dilakukan masyarakat tanpa ada komando dari BPBD,” tuturnya.

Menurut dia, pihaknya tidak bisa mengmbil risiko memerintahkan masyarakat untuk mengungsi. Karena ditakutkan ketika masyarakat mengungsi, kesempatan ini digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan hal-hal yang  tidak diinginkan.

“Kalau gempa yang terjadi berpotensi tsunami saya harus menyampaikan informasi kepada masyarakat untuk segera mengungsi, karena itu menjadi tugas dan tanggungjawab BPBD,” sebutnya.

Karena masyarakat telah mengungsi, Mahulauw yang turun langsung memantau kondisi di lapangan meminta masyarakat untuk tetap tenang, tingkatkan kewaspadaan karena informasi tsunami tidak benar. “Saya pantau pergerakan masyarakat yang mulai mengungsi  dan meminta mereka  tenang, karena informasi akan adanya tsunami tidak benar,” pungkasnya.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG stasiun Ambon Andi Azhar Rusdin mengungkapkan, peristiwa naiknya air laut itu bukan tsunami, tapi air pasang maksimum.

“Sudah koordinasi dengan BPBD Buru Selatan. Tidak ada tsunami, adanya pasang air laut maksimum,” kata Andi di Ambon, kemarin.
Data BMKG Ambon menunjukan, air pasang maksimum setinggi 1,9 meter itu terjadi pukul 03.00 WIT-04.00 WIT.

“Level air jam 03.00 WIT itu sekitar 1,9 meter. Jika ada tekanan angin yang kuat di laut Banda maka terjadi penumpukan massa air di pantai. Pasang maksimum terjadi pada pukul 03.00-04.00 WIT. Berhubung di Namrole tidak ada alat (deteksi) tersebut,” terangnya.

Menurutnya, fenomena air pasang maksimum terjadi karena efek pengaruh bulan purnama perige. Di mana, ukuran bulan lebih besar 14 persen dari saat purnama apoge. Jarak dengan bumi juga semakin dekat.

Besarnya bulan purnama perige membuat jarak dengan bumi semakin dekat hanya sejauh 363.300 Km. Sementara purnama apoge 405.500 Km.

“Efek purnama perige yang paling jelas terlihat adalah pasang surutnya air laut yang secara umum kan lebih besar dari pada biasanya. Namun demikian, hal ini juga bergantung pada kondisi topografi pantai dan tipe pasang surut di pantai tersebut,” tandas Andi.

Kepala Kepolisian Sektor Namrole Iptu Selayar menjelaskan, warga mengungsi karena dihantui rasa takut, setelah melihat ombak besar dan naiknya air laut yang tidak seperti biasanya.

Naiknya air laut hampir sejajar dengan tembok dermaga pelabuhan Namrole. Ombak besar, menyebabkan sebagian warga memilih meninggalkan rumah.

“Iya benar tadi subuh. Sebenarnya sedikit saja (warga mengungsi). Mungkin mereka melihat air pasang surutnya besar. Karena takut mereka lalu mengungsi,” kata Selayar kepada Kabar Timur, kemarin.

Sebagian warga yang mengungsi umumnya tinggal di pesisir pantai atau sekitar kawasan pelabuhan Namrole. “Kami sempat monitor di pelabuhan, tapi sebagian kecil saja yang lari. Saat ini mereka semuanya sudah kembali dan beraktivitas seperti biasanya,” tutup Selayar.

ANGIN KENCANG

Sementara itu, angin puting beliung menerjang Desa Dunwahan Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara, kemarin.

Dilaporkan delapan rumah warga, dan satu masjid rusak, serta sejumlah pohonan tumbang diterjang amukan puting beliung. Lima rumah diantaranya rusak parah. Kubah Masjid di desa itu terlepas serta rumah profil tank bergeser.

Terjangan angin puting beliung di Ohoi Dunwahan terjadi sekitar pukul 13.00 WIT dengan durasi hampir 2 menit. Terjangan angin kencang juga merobohkan tiang listrik di desa itu.

Kepala BPBD Maluku Tenggara Mohtar Ingratubun menjelaskan, fenomena alam ini menyebabkan sejumlah keluarga mengungsi.
Rumah warga yang menjadi korban adalah Komarudin Lefteuw (40), Ridwan Kilmas (39), Wa Biru (60), Ikbal Lefteuw (60), Jeris Rahayaan (60), Siwaria Lefteuw (39), Haris Kilmas (26), dan Hasan Rumyaan (65). “Delapan rumah warga yang menjadi korban ditempati 33 jiwa. Sebuah masjid rusak parah pada bagian kubah dan rumah profil tank bergeser,” tandasnya.

Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon Ot Oral Sem Wilar menjelaskan, hasil analisa sementara, kejadian di Desa Dunwahan ini karena terjangan angin kencang, bukan puting beliung.

Menurutnya, angin kencang terjadi karena aktivitas awan hujan Comulonimbus (Cb) di Maluku Tenggara. “Awan Cb dapat menyebabkan hujan secara tiba-tiba dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat/petir dan angin kencang,” jelasnya.

Dikatakan, angin puting beliung adalah angin kencang, tapi angin kencang belum tentu dikatakan angin puting beliung, tergantung kecepatan angin yang menyertainya. Kata dia, kriteria pembentukan puting beliung sendiri sering terjadi di darat. Sementara di laut disebut waterspout. Puting beliung sering terjadi di musim transisi, bisa juga pada musim penghujan.

“Arah pergerakannya tergantung arah gerakan awan Cb (awan konvektif). Lebih sering terjadinya siang atau sore hari, malam hari sangat jarang,” jelasnya. Kecepatan angin puting beliung mencapai 30 sampai 40 atau 50 knots perjam dengan durasi yang sangat singkat.

“Lamanya 3 menit, maksimum 5 menit dengan luas jangkauan daerah yang dirusak diperkirakan 5-10 Km. Dan saya sudah konfirmasi dengan pihak BPBD (Malra) mereka katakan, bahwa masyarakat melihat kira-kira durasi 1 menit,” terang Ot. “Hasil koordinasi dengan BPBD, 8 rumah warga rusak, 1 masjid rusak dan pohon tumbang,” sambung dia. (CR1)

Penulis:

Baca Juga