Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Wendy Pelupessy membenarkan adanya kasus DBD di Kota Ambon.
Namun kata dia, DBD yang terdeteksi ini hanya dua pasien yang positif dan masih dirawat di RS GPM Ambon. “Sekarang kita punya itu dua (dua kasus melalui dua pasien) yang sementara dirawat di RS GPM Ambon. Yang lain itu suspek (indikasi) seperti tipes karena gejala panasnya itu sama,” jelasnya.
Dari dua pasien itu, kata Pelupessy, setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di lokasi alamat rumah kedua pasien tidak ditemukan kasus lain. “Jadi kasusnya menyebar satu di Lateri dan satu di Eri. Tidak ditemukan kasus lain. Bisa saja dia dapat (virus DBD) di sekolah atau di tempat lain. Kalau misalnya di seputaran rumah pasien itu, berarti ada orang lain dan atau anak-anak lain seputaran Lateri yang kena,” terangnya.
Artinya kata dia, tidak ada penyebaran di satu lokasi tertentu. “Tidak merata di satu tempat. Kalau kita temukan kasus, jajaran saya turun PE (penyelidikan epidemiologi) di seputaran rumah yang ada kasus misalnya DBD. Jika ditemukan kasus-kasus lain dua sampai tiga kasus baru kita fogging. Itu artinya daerah disitu betul-betul endemis penyebaran kasus DBD. Tapi beberapa kasus yang kemarin di Galala, kemudian Kayu Putih dan Karpan, kita sudah penyemprotan sejak Oktober lalu,” sambungnya.
Yang paling ampuh untuk mencegah DBD, kata Pelupessy adalah masyarakat harus memperhatikan kebersihan lingkungan dengan cara pembersihan sarang nyamuk untuk menghilangkan jentik-jentik nyamuk dari telur agar tidak menjadi nyamuk dewasa, bukan fogging atau pengasapan. “Kalau dengan pengasapan itu hanya membunuh nyamuk dewasa tapi nanti saat hujan lagi dan air tergenang nyamuk bertelur ulang lagi ulang. Tidak mungkin kita pengasapan terus karena itu merusak kesehatan orang disekitar situ karena itu zat kimia,” jelas Pelupessy.
Cara terampuh kata dia, yaitu dengan cara Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Menguras, Menutup dan Mengubur (3M). “Kita juga sementara pembagian abate untuk diletakan di tempat-tempat terbuka. Kalau tempat air itu harus ditutup. Kemudian juga dispenser bagian bawah kadang saat menekan air, air tertinggal pada bagian bawah, dan saat kita turun pemeriksaan jentik, banyak nyamuk di bagian bawah dispenser,” jelasnya.
Selain itu lanjut dia, sosialisasi untuk masyarakat agar selalu melakukan pembersihan lingkungan sudah dilakukan. “Sudah dilakukan oleh puskesmas. Dan ini juga saya sudah terbitkan surat edaran untuk seluruh puskesmas sejak Oktober-November oleh Kementerian Kesehatan mengingat sudah ada KLB (Kasus luar Biasa) di beberapa daerah, kemudian dengan datangnya musim pancaroba kita harus pro aktif,” kata dia.
Yang tak kalah penting, kata dia, masyarakat harus tingkatkan kebersihan lingkungan. Karena setelah musim hujan dan masuk musim pancaroba seperti saat ini dan air tergenang maka nyamuk akan bertelur di air bersih yang tergenang. (AN/RUZ)



























