Sekilas Info

Wantimpres Puji Penyelesaian Konflik Maluku

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI, Yahya Cholil Staquf memuji Maluku yang mampu menyelesaikan konflik horinzontal yang pernah terjadi pada tahun 1999. Penyelesaian konflik di Maluku dalam waktu relatif singkat dinilai ajaib.

“Kalau kita lihat apa yang terjadi Maluku dan kita bandingkan dengan keadaan masyarakat di tempat lain yang mengalami konflik yang kurang lebih sama, maka cara masyarakat Maluku menyelesaikan konflik boleh dikatakan ajaib. Itu sulit ditemukan di dalam masyarakat-masyarakat yang lain,” puji Cholil usai menggelar pertemuan dengan Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua di kantor Gubernur, Kamis (10/1) bersama para tokoh-tokoh agama dan pimpinan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Karena itu, masyarakat Indonesia maupun dunia internasional perlu dan harus belajar dari masyarakat Maluku. Menurutnya, pengalaman penyelesaian konflik Maluku dapat dijadikan bagian dari Kebijakan Politik Luar Negeri untuk membantu konflik yang terjadi di belahan dunia saat ini. Sebut saja, konflik yang melanda Syiria, Afganistan, Afrika, Somalia, Yaman dan Rwanda. Bahkan diharapkan bisa menjadi sebuah kebijakan internasional dalam rangka penyelesaiannya.

“Kita bisa melihat bahwa konflik yang begitu mencekam pada waktu itu, dalam waktu relatif cepat bisa diselesaikan. Pemerintah perlu mengangkat pelajaran dari Maluku sebagai bagian dari Kebijakan Politik Luar Negeri untuk membantu berbagai masyarakat di belahan dunia lainnya, dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi,” kata Cholil yang biasa disapa Gus Yahya ini.

Kunjungan Cholil ke Ambon dalam rangka menjaring masukan terkait dengan kondisi Maluku dan kesiapan jelang Pemilihan Umum 2019.

Hal ini, sebut dia, karena masyarakat Maluku sendiri memiliki budaya yang sudah mengakar untuk membangun harmoni serta memiliki naluri untuk mempertahankan harmoni dalam masyarakatnya.

“Sebagian suku-suku di Indonesia pun jarang sekali dalam satu suku ada keragaman agama. Di Indonesia Batak agak mirip dengan Maluku bahwa dalam satu marga terdapat keragaman agama dan ini tidak mungkin ada di Eropa, Afrika, Timur Tengah ataupun tempat lain. Ini adalah energi harmoni yang tidak dimiliki di tempat lain,” puji Cholil.

Dikatakan, cara penyelesaian konflik di Maluku bisa dijadikan pelajaran yang sangat berharga. “Pengalaman inilah yang dapat dijadikan bagian dari kebijakan internasional untuk ikut berperan di dalam mengupayakan perdamaian dunia diberbagai wilayah,” paparnya.

Cholil menuturkan ketika dirinya berkunjung ke Yeruslem, Israel beberapa waktu lalu, untuk mengikuti diskusi dengan para Akademisi dan para Ahli, dirinya mengangkat tentang pengalaman Maluku dalam menyelesaikan konflik.

“Saya menyampaikan bagaimana, Maluku mampu melakukan resolusi konflik dari masalah yang terjadi. Dan sambutan luar biasa menunjukan bahwa semua orang tertarik dengan pelajaran yang bisa di ambil dari pengalaman Maluku. Jadi Pak Wagub, jangan terkejut jika, yah dalam waktu yang tidak terlalu lama mungkin akan ada banyak perhatian internasional kepada Maluku, karena dunia ini sedang butuh belajar dari Mauluku ini,” tandas Cholil.

Sementara itu, Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua mengatakan, stabilitas keamanan di Maluku sangat terjamin. “Sejak konflik hingga kini, sudah 15 tahun kita hidup aman dan tentram, karena kerukungan hidup umat beragama ini sangat baik,” ungkap Sahuburua.

Dia katakan, kerukungan hidup dan toleransi orang beragama di Maluku sudah mengakar dan menjadi tradisi sejak dulu.

“Kalau bapak lihat di Jawa, kalau Lebaran, belum tentu orang Kristen datang berkunjung ke saudara Muslim. Tapi di Maluku, mereka saling bersilaturahmi. Sebaliknya jika Natal akan seperti itu juga akan saling berkunjung. Dan bukan hanya Islam atau Kristen tetapi semua datang berkunjung, bersilaturahmi, mengucapkan selamat hari raya,” ucapnya.

Sebaliknya juga, sebut Sahuburua, hal unik terlihat pada saat perayaan hari raya masing-masing agama, terlihat penjagaan rumah-rumah ibadah.

“Kalau kita ada gereja ibadah Natal, yang menjaga keamanan itu juga saudara-saudara kita yang bukan Kristiani. Islam, Hindu dan Budha. Begitupula waktu Lebaran saat shalat Idul Fitri, umat non muslim datang menjaga masjid-masjid. Sehingga saya ingin katakan, sampai saat ini hubungan kita sangat baik,” tandas Sahuburua. (RUZ)

Penulis:

Baca Juga