Sekilas Info

Ada Mahar “Makelar” di Seleksi KPU

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Dua calon komisioner KPU jadi korban makelar. Uang puluhan juta ditransfer dengan iming-iming diloloskan. Nama Timsel disebut-sebut dari transfer dana dimaksud. Benarkah?

Proses seleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum kabupaten/kota di Maluku baru saja berakhir. Calon komisioner penyelenggara pemilu telah diumumkan, akhir pekan kemarin. Sebanyak 10 nama calon anggota KPU masing-masing kabupaten/kota telah diumumkan tim seleksi (Timsel).

Ke-10 nama yang lolos seleksi akan dikirimkan ke KPU Pusat, Jakarta. KPU Pusat akan menetapkan masing-masing lima nama sebagai anggota KPU kabupaten/kota terpilih. Namun, proses seleksi dihebohkan oleh permintaan mahar oleh seseorang yang mengaku “utusan” dari Timsel calon anggota KPU kabupaten Seram Bagian Barat atau zona 1.

Beberapa calon anggota KPU SBB yang lolos tahap seleksi wawancara menjadi korban pelaku yang berperan sebagai makelar dalam kasus ini. Tahap wawancara yang digelar 4-7 Desember 2018 diikuti 20 peserta.

Dua calon menjadi korban aksi makelar yang meminta mahar. Bagi peserta yang membayar mahar sesuai harga yang dipatok, dijamin diloloskan oleh Timsel. Timsel calon anggota KPU SBB diketuai Abubakar Kabakoran.

Dua orang menjadi korban aksi tipu-tipu pelaku yang biasa disapa Arab ini. Adalah Achmad Silehu (Ketua KPU SBB) dan Irawan Sialinbona. Achmad Silehu dan Irawan Sialinbona termakan bujuk rayu pelaku yang meminta mahar melalui telepon seluler. Silehu harus kehilangan Rp 20 juta dan apesnya, tidak masuk 10 besar yang dinyatakan lolos seleksi.

Duit puluhan juta itu ditransfer ke rekening bank sesuai permintaan pelaku. Senasib dengan Silehu, Sialinbona juga harus kehilangan uang Rp 5 juta. Dia juga tidak lolos 10 besar calon anggota KPU SBB yang diumumkan Timsel, Minggu (9/12) dini hari.

Irawan Sialinbona mengaku menjadi korban pelaku. Pelaku diduga merupakan makelar yang merupakan orang suruhan Timsel. Irawan Sialinbona menuturkan, dihubungi pelaku via telepon seluler pada 6 Desember 2018, atau sehari setelah selesai mengikuti tes wawancara.

Sang makelar mengaku sebagai staf Timsel calon anggota KPU SBB. Kepad Irawan, pelaku meminta fulus sebesar Rp 10 juta. Imbalannya, Irawan Sialinbona dijamin lolos proses seleksi. Namun tidak semuanya permintaan makelar disanggupi Irawan. Dia hanya transfer ke rekening BCA atas nama M. Nasli sebesar Rp 5 juta sebagai uang muka.

Sisanya Rp 5 juta akan ditransfer lagi setelah nama Irawan Sialinbona dinyatakan lolos seleksi. Ternyata, pelaku bukan atas nama M. Nasli. “Dia suruh transfer ke bank BCA atas nama orang lain, bukan punya dia,” ujar Irawan Sialinbona yang dihubungi Kabar Timur, tadi malam, .

“Setelah (uang) transfer, dia jamin abang aman. Nama akan digantung (dinyatakan lolos seleksi),” sambung Sialinbona mengutip penjelasan pelaku.

Awalnya, Irawan Sialinbona mengaku sudah curiga dengan pelaku yang menolak bertemu langsung untuk menyerahkan uang. Tapi kecurigaan itu hilang karena dari percakapan via HP, kata Irawan, suaranya sepintas mirip dengan ketua Timsel. Karena itulah dia akhirnya mengirimkan uang sesuai permintaan pelaku. “Namun setelah saya telusuri itu bukan (suara) ketua Timsel. Tapi dia makelar yang diduga melakukan aksinya sepengetahuan Timsel,” ujarnya.

Kecurigaan Irawan akhirnya, terbukti. Setelah dinyatakan tidak lolos seleksi, nomor HP sang makelar sudah tidak lagi aktif. Dia belum dapat memastikan tindakan apa yang akan diambil terhadap pelaku.

Sementara itu, Ketua Timsel calon anggota KPU SBB Abubakar Kabakoran mengaku tidak tahu adanya mahar yang dilakukan oleh Arab, pelaku yang berperan sebagai makelar.

Dia juga membantah Timsel memungut mahar dari peserta tes wawancara agar diloloskan 10 besar calon anggota KPU SBB. Jika terbukti dan identitas pelaku terungkap, apakah Timsel akan melaporkan yang bersangkutan ke polisi?

“Kalau itu betul dan ada bukti (korban dari aksi makelar), silahkan lapor (ke kepolisian),” ujar Kabakoran yang dihubungi via ponsel, tadi malam. (KT)

Penulis:

Baca Juga