KABARTIMURNEWS.COM, AMBON – Sejumlah tudingan dalam aksi-aksi demo yang dilancarkan mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, belakangan ini terkait pengalihan status ke Badan Layanan Umum (BLU), hingga implementasi Beasiswa Bidik Misi yang tidak transparan dijawab Yusuf Madun, Wakil Rektor Unpatti, Bidang Kemahasiswaan, kepada sejumlah wartawan, Jumat, kemarin.
Madubun mengatakan, tudingan tidak transparannya pengelolaan Beasiswa Bidik Misi dan Bea Siswa Prestasi Akademik (PPA), suatu kebohongan dan fitnah besar. Menurutnya, saat seorang mahasiswa mendaftar pertama kali masuk ke Unpatti secara online, disitu langsung mendaftar masuk daftar calon penerima Beasiswa Bidik Misi. Dengan begitu, lanjut dia, hasilnya bisa langsung dilihat secara online dan itu bagian dari transparansi.
Dikatakan, sesuai surat Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Bermawa), Tahun 2018, 27 Maret, kuota awal Beasiswa Bidik Misi Unpatti Tahun 2018, tercatat sebanyak 563 orang melalui pendaftaran online yang dibagi dalam dua cara yakni melalui SNMPTN dan SBMPTN.
Yang sudah dinyatakan lulus oleh Dirjen Bermawa melalui sistem online ini, kata dia, sebanyak 592 orang lulus SNMPTN, sebanyak 226 orang dan yang lulus SBMPTN 366 orang sehingga ada kelebihan 29 orang.
“Ini sudah memenuhi kuota bahkan lebih 29 orang. Kan kuota yang disediakan 563, yang lulus 592. Itu artinya kelebihan 29 orang ini tidak menjadi penerima bidik misi, kecuali ada kuota tambahan yang dijanjikan November ini baru diproses,”jelasnya.
Untuk prosesnya akan dilakukan secara offline yang juga nantinya akan dibentuk tim berdasarkan SK Rektor yang beranggotakan seluruh Wakil Dekan (WD) III. “Jadi tim ini nantinya melakukan verifikasi dan membuat pengumuman di seluruh Fakultas terkait jatah “Beasiswa Bidik Misi” dengan pemberian jatah per fakultas sesuai jumlah mahasiswa. Mahasiswa yang kurang mampu akan memasukkan namanya melalui fakultas lewat WD III, selanjutnya dimasukkan ke Tim untuk diverifikasi apakah layak atau tidak,”terangnya.
Untuk pencairan bea siswa, kata dia, langsung dikirimkan dari Rekening Bermawa ke Rekening Rektor dilanjutkanke rekening penerima bea siswa. “Jadi kami tidak pernah melihat uang dari bea siswa itu,”tuturnya.
Sementara terkait pemotongan Rp 200.000 dari rekening mahasiswa penerima bea siswa, dijelaskannya itu kebijakan yang belum tersosialisasi saja. Karena selama ini, mahasiswa penerima bea siswa kadang menarik uang dari rekening tanpa sisa atau nol rupiah yang berujung dinonaktifkan rekening tersebut oleh Bank sehingga pada tahapan selanjutnya ketika Bermawa mengirimkan bea siswa, tidak bisa terkirim.
Atas dasar itu, tambah dia, pihak kampus mengambil kebijakan menyurati ke Bank untuk diblokir Rp 200.000 dari rekening penerima bea siswa agar rekening selalu aktif.
Selain Bidik misi, ada beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik melalui anggota DPR RI dari Maluku. “Kuota DPR untuk PPA sebanyak 119 orang, namun ada sekitar 34 orang yang tidak penuhi syarat karena telah menerima bea siswa bidik misi dan ada yang IPK satu koma sehingga tidak penuhi syarat setelah dilakukan verifikasi langsung,”jelasnya lanjut.
Sementara menjawab penolakan mahasiswa terhadap pengalihan status Unpatti ke BLU, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Jantje Tjiptabudi mengatakan, pengalihan ke BLU sejak Maret 2018 merupakan kenaikan status dari Satker.



























