Sekilas Info

Bareskrim Polri Usut Gunung Botak

DOK/Kabartimur

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON- Tim penyidik dari Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri sambangi Kabupaten Buru. Kedatangan mereka diduga mengusut sejumlah persoalan yang terjadi di tambang emas Gunung Botak.

Kehadiran tim penyidik yang menangani beragam kasus kriminal khusus, besar dan menonjol ini tiba di Namlea, Kabupaten Buru, Rabu (10/10). Mereka langsung bergerak naik menuju kawasan tambang emas tersebut.

Kedatangan tim Bareskrim sendiri ke Gunung Botak, hanya berselang sehari setelah Kapolda, Wakapolda dan sejumlah pejabat utama Polda Maluku melakukan kunjungan kerja, sekaligus memantau aktivitas tambang selama dua hari sejak Senin, lalu.

“Kemarin (Rabu) mereka datang. Saat sampai di Namlea, mereka langsung naik ke atas (Gunung Botak),” ungkap Sumber kepada Kabar Timur melalui telepon genggamnya, Kamis (11/10).

Jumlah tim yang tiba di Namlea lebih dari dua orang. Mereka didampingi Kombes Pol. Firman Nainggolan, Direktur Kriminal Khusus Polda Maluku.

Tim Bareskrim dipimpin seorang perwira menengah ini diduga untuk mengusut sejumlah persoalan tambang yang kini menjadi polemik, baik mengenai peredaran dan penyalahgunaan bahan beracun dan berbahaya (B3).

“Kurang tahu maksud kedatangan mereka. Tapi kayaknya untuk menyelidiki kasus pertambangan emas yang saat ini sedang panas,” ujarnya.

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Muhamad Roem Ohoirat yang dikonfirmasi Kabar Timur, membenarkan kedatangan tim anti rasuah Polri itu. “Iya benar. Mereka datang pada Rabu kemarin. Mereka datang untuk melihat Gunung Botak,” kata Ohoirat via telepon selulernya, kemarin.

Sebelumnya, tanggal 8 sampai 9 Oktober lalu, Kapolda Irjen Pol. Royke Lumowa, Wakapolda Brigjen Pol. Dr. Akhmad Wiyagus dan sejumlah PJU Polda Maluku, bertandang di Markas Polres Pulau Buru, selama dua hari. Selain bersilaturahmi, kedatangan orang nomor satu Polri di Maluku ini juga sekaligus memantau aktivitas pertambangan.

Di kawasan Gunung Botak sendiri, terdapat sejumlah perusahan besar. Diantaranya PT. Buana Pratama Sejahtera, PT. Prima Indo Persada, PT Sinergi Sahabat Setia, PT. Sky Global Energy dan PT. CCP.

Pertambangan emas itu telah ditutup selama beberapa kali sejak 2015 lalu. Tapi aktivitas penambangan menggunakan B3, masih saja terus beraktivitas. Akibatnya, banyak korban berjatuhan. Baik terkena dampak B3, ataupun dibunuh lantaran persaingan bisnis. (CR1)

Penulis:

Baca Juga