KABARTIMURNEWS.COM,AMBON-Indikasi penambangan liar di Pulau Romang Kabupaten MBD makin kuat. Dugaan sementara, itu dilakukan orang-orang yang justru menyuarakan gerakan # Save Romang dan menolak aktivitas PT Gemala Borneo Utama (GBU) karena dinilai mengancam lingkungan hidup di pulau itu.
“Kita sudah dapat foto-fotonya. Ada lobang yang sudah digali di beberapa titik. Dugaan sementara, orang-orang di Save Romang sendiri yang gandeng donatur ece-ece itu melakukan penambangan liar di sana,” terang salah satu koordinator#Save Romang Novembri Robert kepada Kabar Timur, Kamis (4/10).
Aktivis lingkungan ini menyayangkan adanya oknum-oknum aktivis gerakan Save Romang, membonceng pengusaha melakukan penambangan liar. Menurutnya, tambang liar jelas menggunakan teknologi manual dan sederhana beresiko mencemari lingkungan.
Sementara PT GBU yang mengantongi ijin Amdal dan dan lebih pasti dalam pengelolaan lingkungan, akui dia, pihaknya masih melakukan pemantauan. “Karena yang dipakai penambang liar pasti tromol dan merkuri. Kita saja masih pertanyakan aktivitas PT GBU yang punya ijin pusat, apalagi yang liar-liar begitu?,” ujar Novembri.
Selain beresiko terhadap lingkungan, kehadiran penambang liar memicu terjadinya konflik warga. Meski anak pulau Romang, kehadiran mereka di areal milik warga lain, ini rawan memicu hal tersebut.
“Kami sudah minta masyarakat di sana lapor mereka di Polres MBD. Diminta kepada Polisi bergerak cepat. Hentikan dan proses mereka, karena ini pidana,” ujar aktivis lingkungan kelahiran pulau Kisar itu.
Novembri Robert mengungkapkan, gerakan#Save Romang, kini dipusatkan di Kupang, Provinsi NTT. Dia mengaku kembali ke MBD untuk menelusuri langsung aktivitas penambangan liar yang disebut-sebut dibonceng rekan-rekannya sendiri di pulau Romang.
Sebelumnya diberitakan, Isu #Save Romang yang awalnya dilatarbelakangi aktivitas PT Gemala Borneo Utama (GBU) kini melebar dengan adanya aksi penambangan liar tanpa ijin.



























