KABARTIMURNEWS.COM,AMBON– Kodam XVI/Pattimura beserta jajaran kini sedang membuka akses jalan masuk menuju camp atau posko bantuan suku Mausu Ane, korban kelaparan di Dusun Siahari, Negeri Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah.
Sejak bencana kelaparan melanda suku Mausu Ane yang menyebabkan 4 nyawa melayang, hingga kemarin, Kodam Pattimura beserta jajaran masih berada di camp bersama masyarakat Komunitas Adat Terpencil (KAT) itu.
Kepala Penerangan Kodam Pattimura Kolonel Arm Sarkistan Sihaloho mengatakan, perhatian dan pendampingan terus dilakukan pihaknya sebagai bentuk kepedulian sosial. “Ini merupakan bentuk peduli kemanusian. Makanya kami terus memberikan perhatian dan bantuan untuk meringankan masalah yang mereka hadapi,” kata Sihaloho, Kamis (2/8).
Hingga kemarin, posko penanganan suku Mausu Ane yang dibangun Kodam, sudah ditempati sebanyak 27 Kepala Keluarga atau berjumlah 116 orang warga suku tersebut. Selain melakukan pendampingan, Kodam juga membangun air bersih dari sumber mata air terdekat. “Air bersih sudah bisa dipakai. Dan akses jalan menuju daerah relokasi sedang dibuat,” ungkapnya.
Khusus untuk anak-anak suku Mausu Ane, tambah Sihaloho, pendampingan berupa proses belajar mengajar dan bermain dilakukan oleh pengurus Persit Kartika Chandra Kirana (istri tentara angkatan darat) yang dibantu anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa).
Sihaloho mengaku, jika sampai saat ini kondisi kesehatan warga suku Mausu Ane sudah semakin membaik. “Diharapkan sebagian masyarakat suku Mausu Ane yang masih berdiam di hutan dapat bergabung dan tinggal bersama di camp yang sudah disiapkan oleh Kodam Pattimura, agar hidup mereka ke depan bisa lebih baik,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah provinsi (Pemprov) Maluku menegaskan rencana relokasi terhadap komunitas adat terpencil (KAT) suku terasing Mausu Ane di pedalaman hutan Seram, Gunung Morkele, kabupaten Maluku Tengah tergantung kesepakatan warga suku tersebut.
“Tidak ada pemaksaan. Rencana relokasi bisa dilakukan jika warga suku terasing tersebut menyetujui untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan mudah dijangkau,” kata Karo Hukum dan HAM Setda Maluku, Hendry Far-Far, usai memimpin Rakor penanganan kejadian luar biasa (KLB), di Ambon, Rabu.



























